Atasi Syndrome Kesepian dalam Rumah Tangga

by - August 03, 2017

Pernahkah Anda merasa kesepian padahal banyak orang disekitar Anda? Terutama untuk yang sudah menikah, pernahkan Anda merasa hampa padahal pasangan Anda  selalu mendampingi setiap waktu. Kesepian disini tidak hanya diartikan secara fisik yang berjauhan atau LDR dengan pasangan namun kesepian dalam arti ikatan batin dan kedekatan secara spiritual dan emosional. Tinggal serumah, bertemu setiap hari bahkan tidur dan makan pun bersamanya namun mengapa hati ini terasa sepi dan hampa. Merasa sendiri dan syndrome kesepian tidak muncul secara tiba-tiba namun perasaan ini muncul sebagai akumulatif atas perasaan diacuhkan dalam waktu lama, bahkan penyebabbnya bisa karena kebiasaan kecil yang tidak disadari seperti misalnya ditinggalkan main game, menonton TV atau ditinggal tidur.



Syndrome kesepian yang dialami pasangan suami-isteri dapat memicu kerenggangan dalam berumah tangga. Disaat Anda merasa kesepian dan hampa, mungkin pasangan Anda pun merasakan hal yang sama. Pria dan wanita yang dipertemukan dalam pernikahan yang suci, tidak hanya statusnya saja yang terikat namun hati dan perasaannya pun diikat oleh cinta dan kasih sayang. Kemudian mereka menjadi sepasang suami isteri, ketika salah satunya disakiti oleh orang lain maka pasangannya pun akan merasa tersakiti. Jika hati dan jiwanya sudah saling terpaut, meskipun jarak memisahkan akan ada rasa atau insting atau apapun istilahnya yang saling terpaut disaat pasangannya dalam kesulitan, seakan ada suatu yang terjadi di alam bawah sadar kita. Termasuk disaat pasangannya melakukan kebohongan kecil, maka akan sangat terasa oleh pendampingnya.


Perasaan hampa dan kesepian seringnya berasal dari hal-hal kecil dan sepele yang tidak dikomunikasikan. Hal tersebut diibaratkan seperti bom waktu yang dapat meledak dikemudian hari dan merusak segalanya. Komunikasi dalam rumah tangga yang tidak baik akan menimbulkan perasaan hampa, merasa diacuhkan dan fatalnya bisa berujung pada pertengkaran hebat bahkan perceraian. Perlu merubah mind set keduanya untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Sebelum hal tersebut terjadi, lakukan tiga hal dibawah ini untuk memperbaiki keharmonisan dengan pasangan:

1. Jadilah orang pertama yang melakukan perubahan
Jangan membuang waktu berharga Anda dengan hanya menunggu. Menungu pasangan Anda bersikap romantis, menunggu pasangan Anda meminta maaf atau mengajak Anda makan malam. Hindari ego Anda, jadilah orang pertama yang melakukan perubahan. Jika Anda ingin diprioritaskan oleh pasangan Anda, prioritaskan ia terlebih dahulu. Jika ada permasalahan yang menyebabkan kerenggangan rumah tangga Anda. Cobalah cari waktu dan tempat yang tepat kemudian ajaklah pasangan Anda bicara dari hati ke hati tanpa emosi. Ungkapkan apa yang Anda sukai dan tidak sukai, begitu pula sebaliknya, kemudian cari solusi bersama dari ketidak-sukaan atau ketidak-nyamanan Anda dan pasangan. Sikap menimbun masalah kecil, menahan kekesalan dan menutupi kekecewaan terhadap pasangan bukan hal yang baik. Asal diungkapkan dengan cara yang tepat maka masalah tersebut akan segera teratasi. Kegiatan saling koreksi satu sama lain juga dapat Anda agendakan setiap bulan untuk saling introspeksi diri.

Tidak perlu ragu untuk memulai hari-hari Anda dengan candaan yang bisa lebih mencairkan suasana pagi sebelum Anda memulai beraktifitas, Anda juga bisa menggoda pasangan Anda dengan kalimat romantis sebelum tidur, atau Anda bisa mengajaknya bersantai sambil minum teh hangat ditemani dengan cerita masa kecil atau mengenang masa pacaran dulu juga bisa Anda lakukan untuk mengembalikan keintiman dengan pasangan. Jadilah orang pertama yang melakukan perubahan baik untuk keluarga Anda.

2. Bertanggung jawab dengan keputusan hidup Anda
Bukankah pernikahan ini Anda dan pasangan yang putuskan? Lalu mengapa Anda lari ketika muncul permasalahan dalam rumah tangga? Bertanggung jawablah dengan setiap keputusan yang Anda ambil. Anda akan menjadi orang tua dari anak-anak Anda, Anda adalah pemimpin bagi mereka. Tidaklah bijak menyerahkan urusan rumah tangga kepada salah satu pihak. Suami yang berfikir bahwa mendidik anak merupakan tanggung jawab isteri adalah hal yang keliru dan isteri yang menuntut suami dengan penghasilan tinggi diluar kemampuannya juga keliru. Selalu ingat bahwa ada anak-anak kita nanti yang akan mencontoh sifat dan perilaku kita sebagai orang tua, jadikan hal tersebut motivasi untuk Anda dan pasangan untuk selalu belajar lebih baik, saling perhatian, tinggi toleransi, selalu setia dan menjaga kepercayaan serta selalu menyayangi dan mengasihi lebih. Membayangkannya saja sudah sangat indah apalagi mewujudkannya dalam rumah tangga Anda bukan?

Baca juga : 5 Ide Sederhana Merawat Diri untuk Mama Super Sibuk

3.Belajar memaafkan kesalahan pasangan Anda
Manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya, termasuk pasangan. Ia juga hadir dengan sepaket masa lalunya yang seperti apapun tidak bisa dihapus. Untuk Anda yang memiliki pasangan dengan sebagian masa lalunya yang tidak kita sukai, kuburlah dalam-dalam dan jangan dipanggil kembali, kemudian maafkanlah. Untuk Anda yang sudah dimaafkan kesalahan masa lalunya oleh pasangan Anda, belajarlah dari kesalahan tersebut, jangan pernah mengulang hal yang sama. Ingat, tidak banyak orang yang mau menerima dan memaafkan kesalahan kita, maka cintailah ia dengan sepenuh hati. Mungkin sebagian dari kita, sering merasa kesal dan jengkel dengan sikap pasangan kita namun ingatlah kebaikannya dan perjuangan kalian selama ini hingga menuju pernikahan. Jangan sungkan untuk meminta maaf pada pasangan jika Anda melakukan kesalahan. Seorang wanita dapat memaafkan kesalahan seorang pria tetapi tidak akan bisa melupakan kesalahan tersebut namun hal itu tidak juga bisa dijadikan alasan pertengkaran dalam rumah tangga Anda dan pasangan.

Selain kesalahan di masa lalu pasangan, sering juga keributan ini berasal dari hal-hal sepele yang identik dengan kebiasaan perilaku yang melekat sejak kecil, seperti kebiasaan bangun siang, menyimpan barang tidak pada tempatnya atau yang lainnya. Jika dibiarkan dalam waktu yang lama akan membuat Anda atau pun pasangan merasa tidak dihargai nasehatnya atau tidak diindahkan saran serta tegurannya yang berdampak timbulnya syndrome kesepian dalam rumah tangga. Merasa hanya diri sendiri yang bertanggung jawab untuk rumah, untuk anak dan untuk setiap keputusan yang diambil. Perlu hati yang kuat dan tulus  untuk memaafkan dan membimbing pasangan dengan karakter seperti ini. Yakinilah bahwa selalu ada keinginan baik untuk berubah dari pasangan Anda jika Anda mau terus memulai untuk berubah.

You May Also Like

2 komentar

  1. Belajar memaafkan kesalahan pasangan pasti bukan perkara mudah ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak, tapi mengingat kesalahannya justru membuat suasana rumah jadi tidak nyaman, asal sama-sama komit utk tidak mengulangi dan tidak membahas, saya rasa itu jauh lebih baik y mba :)

      Delete

Budayakan berkomentar yang sopan Thanks