Working Mom, Senyum Si Kecil adalah Senyum Keluarga Kami

by - Januari 17, 2018

Kami menikah muda diusia 24 tahun, dan semuanya mulai dari nol. Akhirnya kami putuskan untuk berjuang dan bekerja lebih keras bersama-sama. Kami tinggal berdua merantau di ibu kota dan sebulan sekali kami pulang kampung menjenguk orang tua. Meski begitu komunikasi kami dengan orangtua tetap terjalin setiap hari melalui telepon yang kami hadiahkan untuk mereka. Di keluarga kami, hanya saya dan suami anak yang menjadi sarjana, kakak kami hanya lulusan SMA sehingga kami merasa memiliki tanggung jawab lebih besar akan masa tua orang tua kami.


full time mom, ibu rumah tangga sukses


Setahun pernikahan, kami dianugerahi putri kecil yang cantik dan tidak kurang sesuatu apapun. Saya mulai bimbang antara tetap berkarir atau fokus dengan si kecil di rumah. Sebelum saya cuti melahirkan, suami menghadiahi buku-buku parenting untuk menemani saya di rumah selama 3 bulan. Dengan saran, pertimbangan dan diskusi yang alot, saya putuskan untuk tetap bekerja sambil tetap melihat perkembangan si kecil apakah rewel atau tidak saat ditinggal bekerja.



Kesehatan

Bagi saya kesehatan adalah harta yang paling berharga. Saya sangat concern dengan kesehatan keluarga. Dimulai dari kebiasaan kecil seperti makanan yang dikonsumsi serta pola istirahat. Saya bukan chef, tapi saya suka memasak untuk keluarga kecil saya. Ada kebahagiaan tak terungkapkan ketika melihat suami dan si kecil lahap menyantap makanan yang saya olah sendiri. Setiap hari sebelum berangkat ke kantor, saya selalu menyempatkan untuk memasak terlebih dahulu, untuk sarapan dan makan siang suami di kantornya. Saya siapkan di tempat khusus menu makan siang, jus dan buah serta snack sehat buatan saya sendiri, termasuk saya siapkan juga di rumah untuk si kecil.



Management keuangan rumah tangga

Saya bukan seorang ahli keuangan, namun dengan menjadi ibu, menjadi seorang istri sekaligus #workingmom menjadikan saya untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan. Sejak mengetahui kehamilan, kami mulai mempersiapkan semua yang dibutuhkan si kecil termasuk asuransi pendidikan untuknya. Meski tidak banyak, namun setidaknya tabungan berjangka ini menjadi satu kebiasaan baik untuk saya dan suami. Di waktu senggang, saya mencoba belajar lebih lagi tentang bagaimana mengelola keuangan rumah tangga karena terus terang ini adalah hal baru untuk saya. Informasi tersebut saya cari melalui buku, artikel online dan video dari pakar keuangan di youtube . Setahun baru kami menikah, meskipun hanya berstatus karyawan swasta di sebuah perusahan namun dengan disiplin keuangan, kami bersyukur dapat memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier tanpa kurang sesuatu apapun.



Management waktu
Bagi saya, bekerja bukan sekedar seberapa banyak uang yang diperoleh melainkan sebagai sarana aktualisasi diri. Suami menyadari potensi yang dimiliki oeh saya sehingga ia mengizinkan saya untuk kembali berkarir dengan tetap memprioritaskan keluarga namun tetap bekerja dengan professional. Dan memastikan si kecil diasuh oleh keluarga sendiri, yaitu oleh saudara kandung saya.

Di kantor, saya berusaha untuk tetap terhubung dengan putri saya, melalui telepon, video call maupun berkirim foto dan voice note via whatsapp. Hal tersebut sedikitnya dapat mengobati kerinduan saya akan si kecil. Mendengar tangis tawa dan celotehnya seolah memberikan energi positif bagi diri saya.

Saya memilih menggunakan jasa ojek online agar dapat segera sampai di rumah dan bertemu si kecil, sampai di rumah seperti biasa ia sudah menunggu di depan pintu minta digendong. Rasanya seperti menemukan semangat baru lagi meskipun sudah bekerja seharian.

Dari pagi hingga malam bertemu pagi kembali rasanya padat sekali kegiatan saya baik itu di rumah dan di kantor namun semua membuat saya merasa bahagia dan berharga karena apa yang saya perjuangkan untuk anak dan suami dibalas dengan penuh cinta oleh mereka.

Khusus weekend, saya pastikan tidak ada yang mengganggu waktu saya dengan si kecil. Semua pekerjaan sudah selesai di hari sebelumnya, sehingga Sabtu dan Minggu menjadi waktu keluarga yang kami habiskan bertiga, baik itu melakukan hobi kami di rumah atau sesekali jalan ke luar.

working mom, mama kerja, happy mama

Banyak orang mengeluh dan menginginkan posisi orang lain, working mom atau full time mom tidak ada yang salah, semua ibu memiliki alasan terbaik untuk menjadi salah satu dari banyak pilihan dalam hidupnya. Semua keputusan pun akan baik jika dijalani dengan ikhlas dan amanah, karena hasil tidak akan mengingkari usaha. Si kecil pasti menginginkan ibunya selalu mendampinginya namun kebutuhan dan masa depannya adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Selagi saya masih muda dan kuat, saya akan berjuang bersama suami untuk senyum si kecil. Suatu hari nanti, mungkin saya akan memilih menjadi full time mom dengan hobi saya yang sedang saya bangun.


"Bagi kami, SENYUM SI KECIL ADALAH SENYUM KELUARGA KAMI"

You May Also Like

4 komentar

  1. I feel you mbaaa :)
    Selain ngeblog saya juga working mom 8-5, hanya bedanya saya menitipkan anak ke daycare karena tidak memiliki keluarga yang bisa mengasuh anak kami. Tetap semangattt! Semoga pada waktu dan alasan yang tepat, kita diberi kesempatan menjalani hobi yang memenuhi kebutuhan finansial dan aktualisasi diri kita yaak! ;) Salam sayaaang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai mba, mama seperjuangan ya kita. rindu rumah dan rindu anak saat bekerja itu gak enak banget y mba. sudahberapa lama titip daycare mba? aku sempet mau nyoba juga tapi blm ada pengalaman titip daycare jadi masih ragu2...

      Hapus
  2. Wah memang menjadi ibu sekaligus istri membuat kita nemiliki banyak keahlian seperti yang bunda sebutkan diatas. Semoga apapun pilihan kita baik menjadi ibu yang bekerja atau ibu rumah tangga kita tetap bisa memberikan yang terbaik ya bun ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin bunda erysha, kalo dipikirin memang kerasa berat ya bunda, penting banget kita menjaga keseimbangan jiwa biar tetep tenang dan bahagia y mba.

      Hapus

Terimakasih telah meninggalkan komentar yang baik dan sopan.